Senin, 25 Oktober 2021

BERKENALAN DENGAN MAKNA TARI

Definisi Tari sebagai Dasar Memahami Makna Tari Tari merupakan salah satu cabang seni yang menggunakan media gerak tubuh manusia, sehingga seni tari memiliki ciri media yang berbeda dengan seni-seni lain seperti seni musik dan seni rupa. Pengertian seni tari secara umum merupakan ungkapan ekspresi jiwa manusia yang disalurkan melalui gerak yang ritmis, indah dan beraturan yang memiliki makna dan tujuan tertentu.

Gerak tari berbeda dengan gerak sehari-hari, meskipun beberapa gerak tari juga terinspirasi dari gerak atau pun kegiatan manusia sehari-hari. Gerak tari memiliki makna yang berpadu dengan elemen-elemen lainnya seperti musik, busana, tata rias dan properti, sehingga gerak tersebut dapat menjadi media komunikasi yang bersifat multikultural dan juga multilingual. Seni tari bersifat multikultural, artinya kita dapat belajar memahami berbagai budaya masyarakat melalui sebuah karya tari. Selain itu, perkembangan sosial dan teknologi kehidupan manusia juga dapat tergambar melalui seni tari. Dengan menyaksikan sebuah pertunjukan tari, kita dapat mengetahui latar belakang budaya di seluruh dunia yang memiliki keberagaman.

Saat kita memahami makna tari, kita dapat menemukan pesan-pesan sosial yang ingin disampaikan oleh seorang koreografer, serta memahami nilai-nilai budaya yang dianut suatu wilayah tanpa harus terlebih dahulu mempelajari bahasa yang digunakan oleh daerah tersebut.Selain seni tari, adapun cabang seni lain yang menggunakan media tubuh manusia sebagai media komunikasi, seperti teater, senam, pantomin dan pencak silat, lalu apa perbedaan seni tari dengan cabang-cabang seni tersebut? Hawkins mendeinisikan bahwa seni tari adalah ekspresi jiwa manusia yang diubah oleh sebuah imajinasi dan diberi bentuk melalui media gerak, sehingga menjadi bentuk gerak yang simbolis sebagai ungkapan si penciptanya (Hawkins, 2003).

 

Tari Berdasarkan Fungsi di Masyarakat

Tari adalah sebuah produk budaya yang merupakan kesatuan yang utuh dengan elemen lainnya, seni tari erat kaitannya dengan cabang seni lain seperti seni musik dan seni rupa. Setiap karya tari juga memiliki makna tersendiri bagi masyarakat. Makna pada tari berkaitan dengan pesan-pesan, nilai, dan juga alasan mengapa tari tersebut dibuat, hal itu tentunya berkaitan juga dengan fungsi tari. Oleh karena itu makna tari tidak bisa terlepas begitu saja dari fungsinya di masyarakat.Fungsi tari di Indonesia digolongkan menjadi empat bagian, yaitu :

1.      Fungsi upacara

Tari memiliki fungsi sebagai sarana upacara yang erat kaitannya dengan kepercayaan masyarakat, yaitu ritual keagamaan atau kepercayaan seperti animisme, totemisme dan dinamisme. Contoh tari yang erat kaitannya dengan ritual keagamaan adalah tari Hudoq dari Kalimantan. Makna tari Hudoq yang berkaitan dengan fungsinya terdapat pada aspek waktu pelaksanaan tari Hudoq serta properti yang digunakan. Tari Hudoq tidak dapat ditarikan di sembarang waktu, tari Hudoqbiasanya dilaksanakan hanya pada saat tertentu seperti saat memasuki masa tanam padi di ladang. Busana tari Hudoq juga berkaitan dengan fungsi serta makna tari dalam masyarakat suku Dayak. Busana yang menggunakan daun pisang melambangkan keabadian, keselamatan, kesuburan dan kesuksesan (Herjayanti: 2014).

Busana dalam tari Hudoq juga tidak bisa digantikan oleh material lain, misalnya daun kelapa atau daun singkong, karena makna tari akan berubah dan fungsi tari sebagai upacara pun menjadi tidak sakral. Keberadaan Hudoq memiliki makna kebaikan dilihat dari elemen tata busana serta waktu pertunjukannya, karena Hudoq dianggap dapat menghilangkan wabah-wabah penyakit, baik penyakit pada tanaman maupun wabah penyakit dan energi buruk pada manusia.Seiring perkembangan zaman, makna dalam busana itu tidak lagi dianggap penting saat Hudoq telah berkembang menjadi sebuah tarian hiburan. Busana Hudoq dibuat dengan daun pisang tiruan yang terbuat dari kain. Hudoq tidak lagi harus ditampilkan pada kegiatan upacara. Kini Hudoq seringkali ditampilkan dalam acara-acara hiburan ataupun promosi pariwisata daerah Kalimantan

2.      Fungsi hiburan/pertunjukan

Tari sebagai media hiburan merupakan fungsi tari yang saat ini seringkali ditemui di masyarakat. Bahkan terdapat beberapa jenis tari yang awalnya berfungsi sebagai sarana upacara kini beralih fungsi menjadi hiburan, misalnya Tari Pendet di Bali. Pada zaman dahulu, tari Pendet merupakan tarian pura yang fungsinya untuk memuja para dewa-dewi yang berdiam di pura selama upacara odalan berlangsung (Kusmayati dkk, 2003). Makna pendet sebagai tari upacara nampak pada gerak-gerak maknawi seperti gerak sembah dan menabur bunga sebagai simbol penghormatan kepada Dewa. Seiring perkembangan zaman, saat ini tari Pendet kerap kali menjadi hiburan dalam acara-acara promosi pariwisata atau acara-acara penyambutan tamu.

Tari hiburan awalnya berkembang di lingkungan sosial masyatrakat sebagai tari pergaulan. Salah satu contohnya adalah tari Doger Kontrak. Doger muncul pada masa pemerintahan Hindia-Belanda pada tahun 1870-an. Aktualisasi dari tari Doger di perkebunan mengalami kemajuan pesat sejak diberlakukan Undang-undang Agraria (Agraris-chewet), untuk memenuhi kebutuhan hiburan di akhir pekan (Herdiani, 2014).

Seiring perkembangan teknologi yang sejalan dengan kemajuan dalam bidang pertelevisian dan sosial media, bidang tari sebagai hiburan masyarakat dapat dengan mudah disaksikan di berbagai stasiun televisi. Saat ini seni tari juga kerap kali menjadi pendukung pertunjukan lain dalam sebuah penampilan musik, yang dikenal dengan penari latar. Akibat fenomena tersebut, banyak bermunculan sanggar maupun perusahaan jasa tari atau yang dikenal dance company sebagai penyedia jasa tari sebagai media hiburan.Tari bagi senimannya menjadi sebuah mata pencaharian, sedangkan tari bagi penontonnya memiliki fungsi sebagai media hiburan. Untuk memenuhi tuntutan pasar, fungsi tari sebagai hiburan maupun tontonan selalu mengedepankan kualitas serta trend yang berlaku sesuai zamannya.

Makna tari yang erat kaitannya dengan fungsi saat ini dapat terlihat dalam desain gerak,musik, busana dan tata rias. Gerak, musik, tata rias dan busana yang ditampilkan merupakan hasil cipta kreatif dan tidak terpaku aturan-aturan baku dalam kaidah tari tradisi. Tata rias dan tata busana yang digunakan merupakan karya kreatif yang bertujuan memanjakan mata penonton (eye cathing) dengan warna dan bentuk yang unik.

3.      Fungsi sebagai media pendidikan

 Fungsi tari sebagai media pendidikan, memiliki pengertian bahwa seni tari merupakan sarana bagi masyarakat untuk dapat belajar memperoleh pengetahuan serta nilai-nilai melalui seni tari. Fungsi tari sebagai media pendidikan salah satunya adalah menjadi materi dalam pembelajaran seni tari di sekolah, contohnya tari-tari pendidikan untuk anak yang bertemakan lingkungan, seperti tari Semut dan tari Kupu–kupu, dengan mempelajari tari Kupu-kupu peserta didik dapat mengembangkan kecerdasan kinestetik dan percaya diri. Selain itu, peserta didik juga dapat mengetahui disiplin ilmu lain yaitu ilmu pengetahuan alam yang menceritakan proses metamorfosis ulat menjadi kupu-kupu melalui tari.

 

Makna Tari dalam Gerak Tari dan Musik

Gerak dalam tari terdapat dua jenis, yaitu gerak maknawi dan gerak murni. Gerak murni atau gerak wantah adalah gerak yang disusun dengan tujuan untuk mendapatkan bentuk artistik (keindahan) dan tidak mempunyai makna-makna tertentu. Gerak maknawi (gesture) atau gerak tidak wantah adalah gerak yang mengandung arti atau maksud tertentu dan telah distilisasi, dengan kata lain dari wantah menjadi tidak wantah (Jazuli, 1994). Contoh gerak murni adalah gerak “geol” pada tari Jaipong. Contoh gerak murni lainnya yaitu gerak melompat, atau gerak berputar. Contoh gerak maknawi dalam tari terdapat pada tari Tani, misalnya seorang petani melakukan gerak tandur atau menanam padi.

Makna dalam gerak tari berkaitan juga dengan ruang. Desain ruang gerak yang lebar menandakan sebuah kebebasan, ekspresi jiwa yang bebas. Desain ruang gerak dengan desain ruang yang lebar biasanya terdapat pada tari-tari rakyat atau pada tarian yang menceritakan tentang rasa bahagia dan keceriaan, misalnya pada tari “Lenggang Nyai” dari Betawi karya Wiwik Widyastuti. Tari Lenggang Nyai memiliki tempo gerak yang sedang hingga tempo yang cepat. Ruang gerak yang lebar memiliki makna kebebasan, sesuai ide garapannya yaitu menceritakan tokoh Nyai Dasimah yang memilih untuk bebas dari kekangan sosok tuan Edward dan mengejar cintanyaDesain ruang yang sempit biasanya terdapat pada tari-tari klasik atau tari-tari yang berkembang di wilayah kerajaan.

Desain ruang sempit tersebut terikat aturan nilai-nilai kesopanan yang dianut dalam lingkungan kerajaan. Salah satunya tari Gending Sriwijaya yang merupakan tarian dari Sumerta Selatan. Tarian ini menggambarkan keagungan kerajaan Sriwijaya. Desain ruang gerak yang sempit dalam garapan tari modern atau kontemporer dapat juga menggambarkan ekspresi keterkekangan, kesedihan serta kemalangan. Makna tari dapat dilihat berdasarkan intensitas tenaga dalam sebuah gerak. Besar kecilnya tenaga dan cara bagaimana dikeluarkan, menentukan kualitas ekspresi dari bagian setiap gerak (Hawkins, 2003). Tari dengan intensitas tenaga yang besar dan kuat menggambarkan juga sosok yang kuat dan gagah sesuai dengan karakter tokoh tarinya, misalnya pada tari Ngremo, intensitas gerak yang kuat memiliki makna bahwa tokoh yang diperankan menggambarkan semangat kepahlawanan. Intensitas gerak yang lemah dan lembut memiliki makna kelembutan dan kebaikan, seperti pada gerak-gerak tari yang menggambarkan sosok seorang putri kerajaan.

 

Makna Tari dalam Elemen Musik

Fungsi musik dalam tari dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu musik sebagai pengiring tari, musik sebagai pemberi suasana tari dan musik sebagai ilustrasi atau pengantar tari (Jazuli, 1994). Musik dalam tari terdapat dua jenis, yaitu musik instrinsik dan musik ekstrinsik. Musik intrinsik merupakan musik yang berasal dari bagian tubuh penari, misalnya berupa nyanyian yang dinyanyikan oleh penari, tepukan tangan atau suara yang berasal dari properti tari yang digunakan seperti gelang tangan atau gelang kaki. Contoh tari yang menggunakan musik intrinsik adalah tari Ratoeh Jaroe, karena dalam tarian tersebut penari melakukan gerakan sambil menyanyi. Suara hentakan tangan pada anggota tubuh seperti dada, juga menghasilkan suara sebagai penanda tempo gerak. Musik ekstrinsik merupakan musik yang berasal dari alat-alat musik pengiring tari, seperti alat musik pada gamelan Sunda atau Jawa. Pada masa modern saat ini, musik ekstrinsik dapat berupa audio dari rekaman kaset atau mp3. Musik pada pertunjukan tari memiliki fungsi yaitu sebagai pengiring tari dan pemberi suasana pada tari.

Dalam kepercayaan masyarakat tertentu beberapa alat musik memiliki makna yang berkaitan dengan fungsi tari. Masyarakat tertentu percaya bahwa alat musik menjadi sarana untuk menghubungkan dunia manusia dengan leluhurnya, contohnya yaitu alat musik Tarawangsa pada upacara Seren Taun di Sumedang Jawa Barat.

 

Makna Tata Busana dalam Tari

Dalam sebuah karya tari selain elemen gerak dan musik, terdapat pula elemen pendukung lain yang tidak kalah penting dalam sebuah karya tari. Elemen tersebut adalah tata busana atau kostum. Rias Busana adalah segala tindakan untuk memperindah diri agar terlihat menarik (Lestari, 1993). Tata

busana adalah segala sesuatu yang dipakai dari kepala sampai kaki. Untuk itu, tata busana tidak hanya pakaian saja, tetapi juga meliputi elemen aksesori pelengkap seperti sanggul, hiasan kepala, gelang, kalung dan lainnya. Aksesori adalah perlengkapan yang menunjang atau melengkapi busana untuk memberikan efek dekoratif (memperindah) pada karakter atau lakon yang dibawakan (Harymawan, 1993). Semua elemen tersebut sifatnya saling melengkapi untuk menunjang makna yang ingin tersampaikan dalam sebuah tarian.

Tata busana dalam penerapannya pada seni tari tidaklah sembarangan, karena harus memperhatikan latar belakang, asal daerah dan cerita dari tarian tersebut. EleMen tata busana yang berkaitan dengan makna tari dapat dianalisis berdasarkan bentuk, warna, corak dan material busana yang digunakan.

Makna busana pada aspek bentuk atau desain pola, berpengaruh pada makna penokohan yang ingin ditampilkan, misalnya desain baju untuk karakter seorang putri berbeda dengan karakter rakyat biasa. Contohnya adalah karakrer Putri pada tari Saraswati. Kostum Putri pada tari Saraswati berbeda dengan karakter angsa yang digambarkan memiliki sayap.Desain yang mewah dengan sentuhan aksen permata pada kostum maupun aksesori mahkota, menjadi simbol bagi penonton yang melihat bahwa tokoh tersebut adalah tokoh yang memiliki kelas sosial yang tinggi atau gelar kehormatan. Sedangkan untuk karakter rakyat pada sebuah pertunjukan tari, desain atau pola rancangan busana dirancang lebih sederhana.

Biasanya rancangan tata busana untuk rakyat terinspirasi dari busana yang digunakan masyarakat dalam bekerja sehari-hari, misalnya sebagai pedagang atau petani. Desain sederhana pada kostum rakyat memiliki makna kesederhanaan Makna tari dalam tata busana juga dapat diamati berdasarkan warna yang digunakan. Warna dalam khazanah budaya tradisional memiliki makna tersendiri yang erat kaitannya dengan kosmologi dunia, yaitu kehidupan dan kematian. Warna putih melambangkan warna langit atau melambangkan kehidupan, hitam melambangkan warna bumi dan tanah serta kematian, sedangkan warna merah melambangkan dunia manusia itu sendiri (Sumardjo,

2016).

Makna tersebut dapat dilihat dalam khazanah budaya masyarakat Batak Toba, di mana terdapat tiga warna utama yang biasanya tergambar dalam kerajinan tangan seperti kain ulos, rumah adat, maupun peralatan lainnya. Merah disebut narara, putih disebut nabotar dan hitam nabirong. Makna dari tiga warna tersebut yaitu keseimbangan dalam hidup. Oleh karena itu makna warna kain ulos tersebut menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Batak Toba termasuk pada pertunjukan tari Tor-Tor.Makna tari juga tidak terlepas dari corak atau motif pakaian yang digunakan. Dalam beberapa tarian Jawa Klasik, kain batik yang digunakan memiliki makna tertentu yang tidak boleh digunakan sembarangan. Corak batik tertentu seperti Parang Barong hanya diperuntukan khusus untuk raja (Prasetyo, 2010). Selain corak yang erat kaitannya dengan tokohtokoh berdasarkan kelas sosial, terdapat juga beberapa corak kain yang melambangkan suatu peristiwa, seperti kain batik motif truntum yang digunakan untuk acara pernikahan.

Material tata busana dalam tari juga memiliki makna terseNdiri. Material adalah bahan dasar pembuat elemen busana seperti kain, logam atau kulit hewan dan tumbuhan. Material pada tari memiliki makna khusus sehingga tidak dapat digantikan oleh material lain, karena akan mengubah esensi makna tarinya. Contohnya seperti aksesori kepala pada tari Balian Dadas menggunakan bahan dari anyaman janur daun kelapa. Janur daun kelapa memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Dayak, karena daun kelapa mengandung energi positif yang menghubungkan manusia dengan leluhur. Makna janur kelapa pada aksesori tari Balian Dadas, bahwa hendaknya masyarakat Dayak harus selalu menghormati budaya leluhurnya, jika material daun kelapa ini dihilangkan, maka makna pada tarian Dadas akan berubah.

Makna tari dalam elemen tata busana dapat dilihat dari aksesori yang digunakan di kepala. Aksesori kepala melambangkan tokoh yang diperankan seperti tokoh raja atau ratu yang biasanya memakai aksesori mahkota. Makna aksesoris dalam tata busana tari juga dapat digunakan untuk menggambarkan sosok fauna seperti pada tari Merak dan tari Kijang Kencana dengan meniru corak bulu, sayap sosok hewan yang ditarikan pada desain kostumnya

 

Makna Tata Rias dalam Tari

Bentuk tata rias dalam tari dikenal dengan tata rias panggung. Tata Riaspanggung atau stage make up adalah riasan untuk menampilkan watak tertentu bagi seorang pemeran di panggung. Make up yang biasa digunakan dalam pertunjukan panggung dapat digolongkan ke dalam corrective make up, style make-up, dan character make-up (Paningkaran, 2013). Tata Rias panggung pada umumnya memiliki ciri-ciri yang khas, antara lain, garis wajah yang tajam, pilihan warna yang mencolok atau kontras dan penggunaan alas bedak yang lebih tebal (Thowok, 2012).

Hubungan tata rias dengan makna tari dapat dilihat dari aspek bentuk riasan dan warna riasan. Bentuk riasan dapat terlihat pada bentuk alis, kumis, dan bibir serta bentuk bayangan tulang (shadding). Aspek warna dapat dilihat dari warna bibir, warna riasan mata, dan warna alas bedak. Tata rias memiliki makna tersendiri jika dianalisis dari segi dan bentuk, contohnya pada bentuk tata rias paes pada tari Jawa ataupun pengantin Jawa. Tata rias paes yang umum terdapat dalam karya tari adalah Godheg, Godheg memiliki makna ketika manusia sudah paham tentang asal usulnya dan selalu mengasah budi, maka manusia diharapkan dapat kembali ke asal dengan sempurna (Yuwati, 2018).

Tata rias menjadi salah satu elemen tari yang dapat menyampaikan ide atau makna tari yang ingin disampaiakan oleh koreografer, contohnya rias dalam tari Maung Lugay, tata rias menggambarkan karakter harimau sesuai dengan ide yang ingin disampaikan. Tata rias juga dapat menggambarkan latar belakang budaya atau dari mana tari tersebut berasal, misalnya polapola lukisan wajah atau face painting yang khas pada beberapa daerah, seperti contohnya rias pada tarian Papua. Motif huruf S atau S terbalik dalam body painting tata rias Papua memiliki makna dualistik, simbol paradoks laki-laki dan perempuan, langit dan bumi. Lukisan wajah menggunakan cat dengan bintik-bintik atau garis putih mengandung makna rohaniah (Sumardjo, 2016).

Makna Tari dalam  Elemen Properti Tari

 

Properti tari memiliki fungsi sebagai  sarana ekspresi estetis, sarana simbolik dan  senjata. Pemilihan fungsi  properti itu  sifatnya tidak  mutlak (Maryono, 2012). Properti tari yang memiliki fungsi dan makna sebagai  senjata, nampak pada   beberapa jenis   tari   seperti tari-tari  perang pada   suku   Dayak  dan Papua, senjata memiliki makna khusus yang menjelaskan sebuah peristiwa dalam tari, misalnya peperangan. Properti tari sebagai senjata juga dapat menjelaskan  karakter  tertentu, misalnya  properti  panah  untuk  seorang ksatria. Properti sebagai  sarana ekspresi terdapat pada  beberapa tari  kreasi, misalnya tari Jaipong dengan properti Kipas.

Contoh lain penggunaan properti sebagai sarana estetis terdapat pada tari-tari nontradisi atau  modern, misalnya pada  tarian Gloving. Tari Gloving adalah sebuah tari modern dengan gerak Hip-hop  menggunakan properti sarung tangan yang dilengkapi lampu  led, tarian dipertunjukan di panggung dengan tata cahaya  yang gelap. Lampu led pada sarung tangan menciptakan keindahan tersendiri dalam  pertunjukan tari.

Properti sebagai sarana simbolik terdapat pada tari Topeng Cirebon. Properti topeng pada tari Topeng Cirebon memiliki makna yang berbeda pada setiap karakter properti topeng yang  ditarikan. Makna  tersebut berkaitan dengan warna topengnya. Warna putih pada topeng Panji melambangkan kesucian, layaknya bayi yang baru lahir, warna merah pada Topeng Kelana melambangkan angkara murka  dan titik puncak dari fase kehidupan.

Properti (property) berarti alat-alat yaitu sebagai set dan alat bantu berekspresi. Properti merupakan peralatan penunjang gerak sebagai wujud ekspresial (Hidajat, 2005).  Properti bisa  berupa alat  tersendiri, bisa  pula bagian dari tata busana (Sumaryono dan Endo, 2006). Properti menjadi bagian dari tata busana jika properti tersebut tidak digunakan untuk menunjang gerak, sarana berekspresi dan penyampaian makna tari. Sebagai contoh, selendang dapat dikategorikan sebagai tata busana jika selendang tersebut tidak  digunakan dalam  menunjang gerak  tari.  Selendang sebagai  properti tari, misalnya jika selendang tersebut digunakan untuk menari dan memiliki makna khusus yang  menunjang pertunjukan tari.  Contohnya selendang menjadi bagian  dari gerak seblak sampur dalam  tari klasik.

TUGAS MANAJEMEN PRODUKSI PERTUNJUKAN

Buatlah Pamflet tentang Pagelaran Tari yang didalamnya mencakup : 1. Tema Pagelaran 2. Kelompok yang akan tampil 3. Waktu dan Tempat pelaksa...